Fenomena kenaikan harga ayam potong di Pekanbaru ini mencerminkan pola musiman yang sering terjadi menjelang hari besar, termasuk Tahun Baru. Para pedagang di Pasar Bawah dan Pasar Pagi Pekanbaru melaporkan bahwa lonjakan dimulai sejak awal Desember, dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Salah satu penyebab utama adalah peningkatan permintaan dari konsumen yang mempersiapkan hidangan spesial untuk pesta akhir tahun. "Biasanya, keluarga besar berkumpul dan ayam menjadi pilihan utama untuk menu grill atau opor," ujar seorang pedagang ayam di Pasar Bawah yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa volume penjualan harian naik hingga 30 persen, tetapi stok dari peternak lokal belum mampu mengimbangi.
Selain permintaan yang melonjak, faktor cuaca ekstrem di wilayah Riau juga turut berperan. Hujan deras yang mengguyur sepanjang musim penghujan telah mengganggu proses distribusi dari peternakan di daerah pinggiran Pekanbaru, seperti Kampar dan Siak. Banjir ringan di beberapa ruas jalan utama membuat pengiriman ayam segar tertunda, sehingga pasokan ke pasar kota berkurang. "Kami biasa menerima truk pengiriman setiap pagi, tapi sekarang sering molor hingga siang hari karena jalan licin dan genangan air," kata seorang distributor ayam potong di kawasan industri Pekanbaru. Kondisi ini tidak hanya menaikkan biaya transportasi, tapi juga risiko kerusakan barang, yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual eceran.
Dari sisi produksi, peternak ayam di Riau menghadapi tantangan biaya pakan yang terus meningkat. Harga jagung dan dedak sebagai bahan utama pakan ternak naik sekitar 15 persen sepanjang tahun ini, dipengaruhi oleh fluktuasi harga global komoditas pertanian. "Kami terpaksa menyesuaikan harga jual ke pedagang untuk menutup biaya operasional," jelas seorang peternak dari Asosiasi Peternak Ayam Riau. Ia memperkirakan bahwa tanpa intervensi dari pemerintah daerah, harga bisa terus merangkak naik hingga Rp40.000 per kilogram jika cuaca buruk berlanjut.
Dampak kenaikan ini dirasakan paling dalam oleh keluarga berpenghasilan menengah ke bawah di Pekanbaru. Seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Tampan mengaku harus mengurangi porsi belanja mingguan. "Biasanya saya beli dua kilogram untuk seminggu, sekarang cukup satu kilogram saja. Harus pintar-pintar atur menu agar tetap bergizi," katanya. Sementara itu, restoran dan warung makan di sekitar pusat kota juga mulai menaikkan harga menu berbahan ayam, seperti ayam goreng atau sate, yang bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp10.000 per porsi lebih mahal dari biasanya.
Pemerintah Kota Pekanbaru telah merespons situasi ini dengan menggelar operasi pasar murah di beberapa titik strategis, seperti Lapangan Merdeka dan pusat perbelanjaan. Melalui Dinas Perdagangan dan Pasar, mereka menyediakan ayam potong subsidi dengan harga Rp32.000 per kilogram, meski kuota terbatas hanya untuk warga berpenghasilan rendah. "Kami bekerja sama dengan peternak besar untuk stabilkan pasokan. Operasi ini akan berlangsung hingga 31 Desember," ungkap Kepala Dinas Perdagangan Pekanbaru dalam konferensi pers kemarin. Selain itu, masyarakat diimbau untuk memantau harga melalui aplikasi pasar digital yang disediakan pemkot, guna menghindari spekulasi harga dari oknum pedagang.
Bagi konsumen yang ingin menghemat, para ahli gizi menyarankan alternatif protein seperti ikan atau tahu-tempe, yang harganya relatif stabil di kisaran Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram. "Diversifikasi menu bukan hanya soal hemat, tapi juga menjaga keseimbangan nutrisi keluarga," kata seorang nutrisionis dari Universitas Riau. Dengan pendekatan ini, diharapkan warga bisa tetap merayakan Tahun Baru tanpa beban ekonomi berlebih.
Lonjakan harga ayam potong ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk memperkuat ketahanan pangan lokal. Di tengah tantangan iklim dan ekonomi global, kolaborasi antara peternak, pedagang, dan pemerintah menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga. Warga Pekanbaru diharapkan tetap waspada dan bijak dalam berbelanja, sementara menanti perbaikan cuaca dan pasokan yang lebih lancar pasca-Tahun Baru.
