Bencana longsor Sumbar kali ini bukan yang pertama, tapi skalanya membuat banyak pihak terkejut. Menurut laporan awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), longsor dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mencapai lebih dari 200 mm dalam 24 jam, menyebabkan tanah labil di daerah pegunungan longsor secara masif. Ribuan warga terisolasi, rumah-rumah hancur, dan akses jalan terputus. Di tengah kekacauan itu, Polda Riau mengirimkan tim bantuan lintas provinsi untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan. "Mereka adalah saudara-saudara kita yang rela meninggalkan keluarga untuk menyelamatkan orang lain," ujar seorang saksi mata dari tim relawan setempat, yang enggan disebut namanya.
Kronologi Kejadian: Dari Misi Penyelamatan hingga Tragedi Tak Terduga
Cerita dimulai ketika Polda Riau menerima permintaan bantuan dari Polda Sumbar pada 27 November 2025. Tim yang terdiri dari delapan anggota elit, termasuk Brigadir Andi Saputra dan Aipda Budi Santoso, diterjunkan ke lokasi bencana. Mereka bertugas membuka jalur evakuasi, mendistribusikan logistik, dan mencari korban hilang di area rawan longsor. Pada pagi 29 November, sekitar pukul 08.00 WIB, tim sedang membersihkan lumpur dan bebatuan yang menutupi jalan desa ketika longsor susulan terjadi tanpa peringatan.
Menurut rekonstruksi kejadian, Brigadir Andi Saputra, 32 tahun, sedang memimpin evakuasi seorang ibu dan anak kecil ketika tanah mulai bergeser. Ia berhasil mendorong korban ke tempat aman, tapi dirinya tertimbun longsor. Rekan-rekannya berusaha menyelamatkannya, tapi arus lumpur yang deras membuat upaya itu sia-sia. Sementara itu, Aipda Budi Santoso, 35 tahun, hilang saat mencoba mencapai posko darurat di sisi lain bukit. Tim pencarian menemukan seragam dan peralatan miliknya tertimbun, tapi tubuhnya belum ditemukan hingga sore hari. "Kami kehilangan saudara yang setia. Ini pukulan berat bagi keluarga besar Polda Riau," kata Kapolda Riau, Irjen Pol. Muhammad Iqbal, dalam konferensi pers darurat di Pekanbaru.
Operasi pencarian terus berlanjut dengan bantuan helikopter dan anjing pelacak dari Basarnas. Cuaca buruk menjadi tantangan utama, dengan hujan deras yang tak kunjung reda. Hingga berita ini ditulis, total korban longsor Sumbar mencapai 15 meninggal, 20 hilang, dan ratusan mengungsi. Wilayah Agam dan Tanah Datar menjadi yang terparah, dengan kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Pengorbanan Polda Riau: Kisah Heroisme di Tengah Bencana
Dua korban dari Polda Riau ini bukan sekadar statistik; mereka adalah ayah, suami, dan pilar keluarga. Brigadir Andi Saputra, asal Pekanbaru, dikenal sebagai petugas yang rajin dan selalu siap tugas lapangan. Ia meninggalkan istri dan dua anak kecil yang kini harus menghadapi duka mendalam. Sementara Aipda Budi Santoso, warga asli Dumai, adalah veteran operasi kemanusiaan dengan pengalaman di banjir Riau tahun lalu. Keluarganya berharap mukjizat, tapi realitas bencana alam sering kali kejam.
Kejadian ini menyoroti peran vital polisi dalam penanganan bencana. Polda Riau telah mengirimkan lebih dari 50 personel tambahan, termasuk tim medis dan psikolog, untuk mendukung korban. "Kami tidak hanya menegakkan hukum, tapi juga melindungi masyarakat di saat-saat sulit seperti ini," tambah Kapolda Iqbal. Respons cepat ini mendapat apresiasi dari Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, yang menyebut kolaborasi lintas provinsi sebagai kunci sukses mitigasi bencana.
Dampak Lebih Luas: Pelajaran dari Longsor Sumbar untuk Pencegahan Bencana
Tragedi longsor Sumbar ini bukan isu lokal semata; ia mencerminkan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata di Indonesia. Deforestasi di lereng bukit, pembangunan tanpa perencanaan, dan pola hujan tak terduga menjadi faktor pemicu. Pakar lingkungan dari Universitas Andalas, Prof. Dr. Rizki Amalia, menekankan pentingnya reboisasi dan sistem peringatan dini. "Kita harus belajar dari ini. Longsor bukan bencana alam murni, tapi sering kali akibat ulah manusia," katanya dalam wawancara eksklusif.
Bagi masyarakat Riau, kehilangan anggota Polda ini menjadi pengingat akan solidaritas antarprovinsi. Komunitas lokal di Pekanbaru menggelar doa bersama, sementara donasi mengalir deras untuk keluarga korban. Pemerintah pusat juga turun tangan, dengan Presiden menginstruksikan percepatan bantuan logistik dan rekonstruksi. BNPB memperkirakan pemulihan akan memakan waktu berbulan-bulan, tapi semangat gotong royong diharapkan mempercepat proses.
Di sisi lain, kejadian ini memicu diskusi tentang kesejahteraan petugas bencana. Apakah asuransi jiwa mencukupi? Apakah pelatihan cukup untuk menghadapi risiko ekstrem? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu jawaban konkret dari pemerintah. Sementara itu, operasi pencarian Aipda Budi Santoso terus dilakukan dengan harapan menemukannya dalam keadaan selamat.
Harapan di Tengah Duka: Menuju Pemulihan Bersama
Meski duka menyelimuti, cerita tragedi longsor Sumbar ini juga penuh inspirasi. Kisah pengorbanan Brigadir Andi dan Aipda Budi mengajarkan nilai kemanusiaan yang tak tergantikan. Bagi warga Sumbar dan Riau, ini saatnya bersatu untuk bangkit. Pemerintah daerah telah membuka posko bantuan, dan relawan dari berbagai organisasi terus berdatangan.
