Semua bermula dari operasi penertiban besar-besaran yang digelar Satgas Gabungan sejak akhir Oktober 2025. Ribuan hektare lahan negara yang dikuasai secara ilegal selama puluhan tahun digusur. Alat berat meratakan kebun sawit, pondok-pondok dibongkar, dan ratusan warga yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan itu terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dalam waktu singkat.
“Anak saya masih trauma sampai sekarang. Suara buldoser itu terngiang-ngiang setiap malam,” cerita Siti, salah seorang ibu yang rumahnya ikut rata dengan tanah di Blok E, Desa Lubuk Kembang Bunga, Pelalawan, saat ditemui wartawan di pengungsian sementara.
Di tengah tangis dan teriakan warga, muncul sosok yang tak terduga: Irjen Pol Mohammad Iqbal, Kapolda Riau. Dengan seragam dinas lengkap, beliau turun langsung ke lokasi konflik. Bukan untuk memimpin penggusuran, melainkan untuk menyelamatkan seekor gajah Sumatera betina dewasa yang terluka parah akibat terkena jerat kawat milik pemburu liar.
Video berdurasi 2 menit 37 detik yang direkam warga itu langsung meledak. Terlihat Kapolda memanjat pagar kawat, menggendong anak buahnya yang terluka saat mengevakuasi gajah, lalu berteriak lantang, “Ini rumah mereka! Kita yang tamu di sini!” Ucapan itu kini menjadi kutipan paling banyak dibagikan di media sosial dengan tagar #SaveTessoNilo dan #KapoldaJantan.
Hingga malam ini, video tersebut sudah ditonton lebih dari 28 juta kali di berbagai platform, mengalahkan angka tayang konten artis ibu kota dalam waktu singkat.
Namun di balik aksi heroik itu, ada luka yang masih menganga.
Data terbaru dari Balai Taman Nasional Tesso Nilo mencatat, dari total luas 83.068 hektare, lebih dari 52.000 hektare telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit ilegal. Populasi gajah Sumatera yang semula diperkirakan 160 ekor pada tahun 2009, kini tersisa kurang dari 80 ekor. Setiap bulan, minimal satu gajah mati akibat konflik dengan manusia.
“Kami bukan tidak mau pindah. Tapi ke mana? Anak-anak sekolah, suami kerja serabutan. Tiba-tiba semua hilang dalam sehari,” keluh Jumadi, warga lainnya yang kini tinggal di tenda pengungsian bersama 127 keluarga lain.
Pemerintah Provinsi Riau melalui Gubernur Riau, Brigjen TNI (Purn) Syamsuar, menyatakan akan memberikan solusi relokasi dan kompensasi. Namun hingga kini, janji itu masih berupa wacana. Sementara itu, Kapolda Iqbal menegaskan bahwa penertiban tetap berjalan, tapi dengan pendekatan humanis.
“Saya polisi, tapi saya juga manusia. Gajah itu tidak salah apa-apa. Mereka hanya ingin hidup,” tegas Iqbal saat jumpa pers khusus, Rabu malam (26/11/2025).
Aksi Kapolda yang memeluk anak gajah yang baru saja diselamatkan, lalu menggendongnya ke kandang transit, menjadi foto yang paling banyak di-repost netizen. Banyak yang menyebutnya “Kapolda versi nyata Captain Planet”.
Di media sosial, dukungan mengalir deras. Ada yang membuat petisi online berjudul “Lindungi Tesso Nilo, Lindungi Gajah Sumatera”, sudah ditandatangani lebih dari 450.000 orang dalam waktu 48 jam. Ada pula yang menggalang dana untuk korban gusuran sekaligus korban konflik satwa.
Malam ini, Tesso Nilo masih gelap. Hanya terdengar suara gajah menggeram pelan dari kejauhan, seolah mengingatkan bahwa hutan itu bukan milik siapa-siapa—melainkan warisan yang sedang menanti penyelamatan.
Akankah kisah heroik Kapolda Riau menjadi titik balik bagi pelestarian Tesso Nilo? Atau hanya sekadar cerita viral yang akan tenggelam ditelan waktu?
Yang pasti, untuk pertama kalinya dalam sejarah Riau, seekor gajah dan seorang jenderal polisi berhasil membuat jutaan orang menangis sekaligus bangga di saat yang bersamaan.
