Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca

Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?

Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
(Foto : VOA Indonesia)

Kabar RiauAsap tebal menyelimuti langit Pekanbaru pagi ini, menyisakan aroma gosong yang menusuk hidung warga di setiap sudut kota. Lonjakan kebakaran lahan gambut yang mencapai puncaknya sepanjang November ini bukan lagi sekadar berita musiman; ia menjadi pengingat keras akan kerapuhan ekosistem Riau di tengah guncangan perubahan iklim. Hanya dalam dua minggu terakhir, lebih dari 500 titik api terdeteksi di berbagai wilayah, mengancam ribuan hektare hutan lindung dan lahan pertanian. Pertanyaan yang menggantung: Apakah Provinsi Riau siap menghadapi musim kering yang semakin ganas ini?

Kebakaran lahan di Pekanbaru dan sekitarnya bukan fenomena baru, tapi skala tahun ini terasa lebih menekan. Cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 35 derajat Celsius dan curah hujan yang nyaris nol selama berminggu-minggu telah mengubah tanah gambut kering menjadi bom waktu. Api yang awalnya berasal dari pembakaran lahan sisa panen oleh petani kecil kini menyebar tak terkendali, melahap vegetasi hingga ke pinggiran permukiman. Warga di Kecamatan Rumbai dan Tampan melaporkan evakuasi darurat semalam, dengan puluhan keluarga terdampak asap pekat yang memicu masalah pernapasan.

Gelombang Panas November: Pemicu Utama Lonjakan Kebakaran Lahan Pekanbaru

November 2025 dicatat sebagai bulan terpanas dalam sejarah pengukuran BMKG di Riau, dengan indeks kebakaran lahan yang melonjak 300 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Para ahli lingkungan menyoroti pola cuaca El Niño yang berkepanjangan sebagai biang kerok utama. "Tanah gambut Riau menyimpan karbon lebih banyak daripada hutan hujan Amazon per hektarnya, tapi saat kering, ia menjadi penyulut api yang sulit dipadamkan," ujar seorang pakar kehutanan yang enggan disebut namanya, menggambarkan betapa rentannya wilayah ini.

Di lapangan, tim pemadam kebakaran dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau bekerja tanpa lelah. Mereka mengerahkan helikopter water bomber untuk menyiram titik api di lahan seluas 2.000 hektare di Desa Limbung, Pekanbaru. Namun, tantangan terbesar bukan hanya api itu sendiri, melainkan angin kencang yang membawa bara ke arah permukiman. Seorang petani lokal, Pak Rahman, 52 tahun, menceritakan bagaimana sawahnya yang baru dipanen menjadi korban pertama. "Saya bakar rumput untuk membersihkan lahan, tapi angin berubah arah. Sekarang, semuanya hangus. Ini bukan salah satu orang, tapi sistem yang gagal melindungi kami."

Data sementara menunjukkan bahwa kebakaran ini telah menewaskan puluhan hewan liar, termasuk harimau sumatera yang terperangkap di zona api. Selain itu, kualitas udara di Pekanbaru turun ke indeks 150-200, kategori tidak sehat, memaksa sekolah-sekolah menutup sementara dan masker menjadi aksesori wajib bagi warga. Bagi penderita asma seperti Ibu Siti, 45 tahun, yang tinggal di pinggiran kota, hari-hari ini terasa seperti mimpi buruk. "Anak saya batuk sepanjang malam. Kami tak punya pilihan selain bertahan di rumah, tapi asap merayap masuk dari celah-celah jendela."

Dampak Ekonomi dan Sosial: Lebih dari Sekadar Api yang Membara

Lonjakan kebakaran lahan Pekanbaru November 2025 tak hanya menggerus alam, tapi juga menggoyang fondasi ekonomi Riau. Sektor pertanian, tulang punggung provinsi ini, mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah. Sawit dan karet, komoditas unggulan, terancam parah karena lahan bakar menghambat panen mendatang. Pengusaha lokal memperkirakan penurunan ekspor hingga 20 persen jika api tak kunjung padam, sementara pariwisata alam seperti Taman Nasional Tesso Nilo kehilangan daya tariknya akibat kabut asap.

Dari sisi sosial, evakuasi massal di lima kecamatan telah memindahkan lebih dari 500 jiwa ke posko pengungsian. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan, dengan laporan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) melonjak 150 persen di rumah sakit setempat. Pemerintah daerah merespons dengan mendistribusikan ribuan masker N95 dan obat-obatan, tapi para aktivis lingkungan menuntut langkah lebih radikal. "Kita butuh moratorium pembakaran lahan, bukan sekadar bantuan sementara," tegas seorang koordinator LSM konservasi yang aktif di lapangan.

Lebih jauh lagi, kebakaran ini memperburuk isu hak asasi manusia di komunitas adat. Suku Melayu di sekitar lahan gambut mengeluhkan hilangnya sumber mata pencaharian tradisional, seperti penangkapan ikan di sungai yang kini tercemar asap. "Lahan kami adalah warisan leluhur, bukan ladang sementara untuk korporasi," kata salah seorang tetua adat, menekankan perlunya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya.

Respons Pemerintah: Upaya Pemadaman dan Pencegahan yang Belum Maksimal

Gubernur Riau, dalam konferensi pers darurat kemarin, mengumumkan alokasi anggaran tambahan Rp50 miliar untuk operasi pemadaman. Tim gabungan melibatkan TNI, Polri, dan relawan lokal, dengan strategi utama berupa pembuatan garis pemecah api (firebreak) sepanjang 50 kilometer. "Kami telah koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk dukungan satelit pemantauan real-time," katanya, menjanjikan transparansi dalam penanganan.

Namun, kritik mengalir deras dari kalangan masyarakat sipil. Banyak yang menilai bahwa penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran ilegal masih lemah. Hingga kini, hanya segelintir petani kecil yang terjaring razia, sementara dugaan keterlibatan perusahaan sawit besar tetap menggantung tanpa bukti konkret. "Pencegahan harus dimulai dari hulu: edukasi dan subsidi alat pertanian ramah lingkungan," sarankan para pakar, menekankan perlunya program rewetting lahan gambut untuk menjaga kelembaban tanah.

Di tingkat nasional, Menteri Lingkungan Hidup menyatakan kesiapan bantuan darurat, termasuk penerbangan awal untuk mendeteksi titik panas. Tapi bagi warga Riau, janji itu harus diikuti aksi nyata. Musim kering yang diprediksi berlanjut hingga Desember menuntut strategi jangka panjang, seperti penanaman pohon endemik dan pengembangan sistem irigasi canggih.

Siapkah Riau Hadapi Musim Kering yang Semakin Ekstrem?

Saat api masih menari di ufuk barat Pekanbaru sore ini, satu hal yang jelas: kebakaran lahan November 2025 adalah panggilan darurat bagi Riau untuk berubah. Ancaman bencana ini bukan hanya soal memadamkan kobaran saat ini, tapi membangun ketahanan masa depan. Dengan perubahan iklim yang mempercepat siklus kering, provinsi ini harus bertransisi dari ketergantungan pada pembakaran tradisional menuju praktik berkelanjutan.

Bagi warga, langkah sederhana seperti melaporkan titik api dini melalui aplikasi SiPora atau menghindari aktivitas luar ruangan saat indeks polusi tinggi bisa menyelamatkan nyawa. Sementara itu, pemerintah diharapkan memperkuat regulasi, termasuk sanksi tegas bagi pelanggar dan insentif bagi petani yang beralih ke metode nol bakar.

Riau, tanah melayu yang subur, tak boleh lagi menjadi korban musim keringnya sendiri. Saat asap mulai mereda, semoga pelajaran dari November ini menjadi fondasi bagi hari esok yang lebih hijau. Karena di balik bara yang padam, ada harapan untuk lahan yang kembali bernapas—dan masyarakat yang siap menghadapinya.


Baca Juga
Berita Terbaru
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
  • Api Liar Melanda Pekanbaru: Lonjakan Kebakaran Lahan November 2025 Picu Ancaman Bencana, Siapkah Riau Hadapi Musim Kering?
Posting Komentar